Gara-Gara Salah Strateginya Pep Guardiola Manchester City kalah di Final Liga Champions

Gara-Gara Salah Strateginya Pep Guardiola Manchester City kalah di Final Liga Champions – Pelatih Manchester City, Pep Guardiola, mendapat kritik setelah tidak memainkan gelandang bertahan dalam pertandingan final Liga Champions 2020-2021. Pep Guardiola menurunkan sebelas pertama yang tampak meyakinkan ketika Manchester City berhadapan dengan Chelsea di Stadion do Dragao, Portugal, untuk pertandingan final Liga Champions 2020-2021. Dengan formasi 4-3-3, Pep Guardiola memainkan pemain terbaiknya di masing-masing posisi.Namun, dalam sebelas pertama itu Pep Guardiola tidak menurunkan satu pun gelandang bertahan sejak menit pertama. Tiga pos di lini tengah dihuni oleh gelandang dengan tipikal menyerang seperti Phil Foden, Ilkay Guendogan, dan Bernardo Silva.

Sementara pemain yang biasa memainkan peran gelandang bertahan, Fernandinho dan Rodri, ditaruh di bangku cadangan oleh Pep Guardiola. Manchester City sendiri menelan kekalahan 0-1 dari Chelsea pada pertandingan final Liga Champions, menyebabkan mereka harus gagal memenangkan final perdananya di kompetisi elite antar-klub Eropa tersebut.Pelatih Manchester City, Pep Guardiola, mengeluarkan pembelaan untuk strateginya di final Liga Champions yang tuai banyak kritik. Manchester City takluk 0-1 dari Chelsea saat keduanya berhadapan di final Liga Champions 2020-2021, Sabtu (29/5/2021) waktu setempat atau Minggu dini hari WIB. Dalam pertandingan yang digelar di Estadio do Dragao, Portugal itu Manchester City tidak mampu membalas gol Chelsea yang dicetak oleh penyerangnya, Kai Havertz, pada menit ke-42.

Dengan hasil tersebut, Manchester City pun harus mengubur impiannya untuk memenangkan Liga Champions lewat final perdananya di kompetisi itu. Menurut beberapa pihak, kegagalan Manchester City di final itu disebabkan oleh pelatih The Citizens, Pep Guardiola, yang salah menerapkan strategi untuk pertandingan tersebut. Beberapa pakar, termasuk legenda Liverpool, Jamie Carragher, menyebut bahwa kesalahan Guardiola dalam pertandingan itu adalah tidak memasang gelandang bertahan dan menggantinya dengan pemain tengah bertipe menyerang. “Tim terbaik menang,” kata Carragher. “Tapi saya harus melihat Pep Guardiola lagi. Saya menyukainya. Saya pikir dia adalah pelatih terbaik di dunia. Saya percaya itu.”

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *