Markis Kido Meninggal Akibat Serangan jantung, Waspadai Silent Killer Pemicu Serangan Jantung

Markis Kido Meninggal Akibat Serangan jantung, Waspadai Silent Killer Pemicu Serangan Jantung – Legenda Bulu Tangkis Indonesia, Markis Kido meninggal dunia di usia 36 tahun. Meninggalnya peraih Olimpiade Beijing 2008 tersebut menjadi duka mendalam bagi Indonesia. Diungkapkan Deri selaku Humas PBSI, Markis Kido meninggal saat bermain bulu tangkis di Tangerang. Deri mengatakan, Kido tiba-tiba terjatuh dan tidak sadarkan diri. Legenda Bulu Tangkis Indonesia, Candra Wijaya juga mengonfirmasi jika Markis Kido meninggal saat bermain olahraga yang juga disebut badminton itu.

Candra Wijaya mengatakan, Markis Kido diduga kolaps karena terkena serangan jantung saat bermain bulu tangkis. “Saat itu, Markis Kido tiba-tiba tersungkur saat bermain bulu tangkis di GOR Petrolin. Sebenarnya rekan-rekannya sudah mencoba menolong, tapi nyawa Markis Kido tidak bisa tertolong. Sementara itu, Markis Kido diketahui memiliki riwayat penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi pada tahun 2009. Bahkan, penyakitnya itu membuatnya batal tampil untuk mempertahankan gelar juara ganda bertahan putra bersama Hendra Setiawan pada Kejuaraan Dunia 2009.

Hipertensi penyakit silent killer
Dalam dunia medis, hipertensi atau tekanan darah tinggi disebut sebagai “the silent killer karena sering tanpa keluhan. Hipertensi menjadi kontributor tunggal utama untuk penyakit jantung, gagal ginjal, dan stroke di Indonesia.
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2018) prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 34,1 persen. Jumlah tersebut mengalami peningkatan dibandingkan prevalensi hipertensi pada Riskesdas pada 2013 sebesar 25,8 persen. Diperkirakan hanya 1/3 kasus hipertensi di Indonesia yang terdiagnosis, sementara sisanya tidak terdiagnosis.

Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia dr. Erwinanto, Sp. JP(K), FIHA mengatakan, seseorang menderita hipertensi dan tidak dikontrol akan menjadi kontributor tunggal yang utama untuk penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal. “Setiap peningkatan darah 20/10 mm Hg akan meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung koroner 2 kali lebih tinggi,” terangnya pada konferensi pers Hari Hipertensi Sedunia secara virtual, Kamis, 6 Mei 2021. Dokter Erwinanto menjelaskan, bahwa pada dasarnya hipertensi bisa dicegah dengan mengendalikan perilaku berisiko seperti merokok, diet yang tidak sehat (kurang konsumsi sayur dan buah, konsumsi garam berlebih), obesitas, kurang aktivitas fisik, konsumsi alkohol, dan stres.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *