Banyak Pasien Isoman Covid-19 Meninggal Dunia, Ini Saran Epidemiolog

Banyak Pasien Isoman Covid-19 Meninggal Dunia, Ini Saran Epidemiolog – Berdasarkan laporan koalisi warga LaporCovid-19 hingga 22 Juli 2021, sebanyak 2.313 pasien Covid-19 meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri di rumah. Data analisis LaporCovid-19 Said Fariz Hibban mengatakan, angka tersebut merupakan hasil pendataan di semua provinsi di Indonesia, dengan DKI Jakarta sebagai daerah dengan angka tertinggi. Di Jakarta, ada sekitar 1.214 kasus kematian pasien saat menjalani isolasi mandiri di rumah.

Provinsi lain yang memiliki banyak kasus kematian pasien isoman, yakni Jawa Barat (245 kasus), Jawa Tengah (141 kasus), DI Yogyakarta (134 kasus), Jawa Timur (72 kasus), dan Banten (58 kasus). Apa yang perlu dilakukan untuk mencegah kematian pasien Covid-19 yang menjalani isoman? Epidemiolog Griffith University Dicky Budiman mengatakan, kematian pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri karena kegagalan intervensi di hulu.

Minimnya 3T, visitasi tidak cukup, dan penemuan kasus dini yang tidak cukup dilakukan menjadi bukti kegagalan intervensi itu. “Sehingga terjadi keterlambatan dalam menemukan kasus, merujuk kasus berat, memberikan perawatan dukungan atau terapi, ini yang berkontribusi pada kematian,” kata Dicky kepada Kompas.com, Kamis (29/7/2021). “Karena berbicara kematian, itu proses kronis 3 mingguan akibat kita gagal dalam intervensi di hulu,” lanjut dia.

Oleh karena itu, ia meminta agar pemerintah memperkuat 3T dan terus memperluas visitasi untuk melihat penilaian risiko. Saat visitasi, petugas harus melihat kelayakan tempat isolasi mandiri, serta akses terhadap obat dan kebutuhan sehari-hari, selain menemukan kasus baru. Baca juga: Banyak Warga Isoman Meninggal, Dinkes Depok Singgung RS Penuh dan Curigai Varian Baru Jika semua itu tidak memenuhi syarat, maka pasien tersebut sebaiknya dirujuk ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat.

Petugas visitasi ini juga harus melakukan pengecekan mengenai telemedicine dan kondisi pasien isoman. “Agar ketika ada masalah bisa dirujuk. Ini yang mencegah perburukan atau fatalitas,” jelas dia. Untuk memudahkan visitasi, Dicky menyarankan setiap daerah memiliki fasiltas isolasi mandiri yang tersentralisasi dan terpantau. Terlepas dari itu, kata dia, banyaknya kematian akibat Covid-19 di Indonesia juga berkaitan dengan minimnya vaksinasi kelompok berisiko dan rawan, baik secara pekerjaan maupun kondisi tubuh.

Meski terjadi penurunan angka kasus positif, hal itu harus disikapi dengan hati-hati. Pasalnya, tes postivity rate Indonesia dan tingginya kasus kematian. “Adanya kasus positif yang menurun, dengan tes menurun, tapi kontradiktif dengan test posivity rate yang tinggi, kematian juga tinggi. Ini tidak logis,” ujar Dicky. “Jadi harus hati-hati menyikapi turunnya kasus. Merasa sudah membaik, padahal kasusnya di masyarakat bisa empat kali lipat, itu terlihat dari kematian yg tinggi,” kata dia.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *