Respons Epidemiolog, Ketika Prediksi Gelombang Ketiga Disebut “Plandemic”

Respons Epidemiolog, Ketika Prediksi Gelombang Ketiga Disebut “Plandemic” – Pandemi Covid-19 sudah berlangsung sejak awal 2020 di seluruh negara, tidak terduga Indonesia. Indonesia sudah mengalami 2 kali puncak infeksi virus Corona dan gelombang ketiga diprediksi akan datang pada akhir 2021 hingga awal 2022. Sebagaimana Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman yang juga memprediksi pada Desember 2021. “Dulu saya memprediksi Oktober, tapi ini berubah lagi, jadi Desember (2021),” kata Dicky.

Namun sayangnya, sebagian masyarakat masih menggangap prediksi ini bukti pandemi sesuatu yang telah direncanakan. Kasus meningkat bersamaan perayaan hari besar keagamaan atau jadwal tahun ajaran baru. Istilah “Plandemic” pun muncul. Bagaimana epidemiolog menjawab hal ini? Respons epidemiolog Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman memberikan penjelasannya. “Ini sebetulnya sangat logis untuk berpikir rasional. Hukum itu bukan hukum fisika atau matematika saja, tetapi ada hukum biologi.

Jika kita melakukan A akan terjadi B, jika melakukan B akan terjadi C, seperti itu juga hukum biologi,” kata Dicky. Pada momen-momen tertentu, misalnya pada acara hari libur, perpindahan dan interaksi yang terjadi di tengah masyarakat akan menyebabkan peningkatan (kasus). Di sana bibit penyakit, dalam hal ini virus corona, menyebar melalui udara akan tersebar. “Kalau bicara penyakit menular yang penularannya melalui udara, yang kita lakukan melakukan mobilitas, yang terpenting adalah divaksin. Berinteraksi di sini hukum biologi yang berlaku.

Ini Kata Kemenkes Konsep dasar ini yang bisa disampaikan untuk menjelaskan bahwa prediksi yang disampaikan para ahli adalah berbasis ilmu pengetahuan. “Di sejarah awal abad kedokteran modern, penyakit menular yang diprediksi di abad 18 adalah menyadari penyakit ini bisa diperburuk dengan pergerakan manusia,” kata dia.

Banyaknya masyarakat yang salah mengartikan prediksi yang disampaikan ahli, menurut Dicky, wajar terjadi. Hal ini karena adanya konflik kepentingan. “Ini hal yang relatif sederhana, tapi sering kali orang tidak menggunakan akalnya malah pakai emosi, karena terganggu zona nyamannya, karena ada konflik kepentingan, tidak bisa berpergian. Tidak ditentukan kadar intelektualnya,” kata Dicky.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *